Sobat

About Me

Kiki
Jakarta, Indonesia
perempuan muda, senang bersenandika tuk tetap sehat, senang belajar, merantau, dan suka sekali dengan kata-kata ini; TO EXIST IS NOT ENOUGH.
View my complete profile

Catatan untuk Tuanku

Aku mau bilang padamu Tuan, aku pasti akan (sangat) rindu padamu.

Rindu pada rumah kecil kita, yang lusuh, yang nyaris kosong melompong hingga aku bisa berlari, berputar dan melompat dari satu sudut ke sudut lain tanpa khawatir tersenggol kursi sambil mendengar Toto.

Aku pasti akan rindu mendengar ketukan halusmu di pintu kamarku saat subuh yang memaksaku merangkak ke pintu karena mengantuk, baru tidur 3 jam saja.

Aku pasti rindu mendengar suara motormu datang setelah azan zuhur berharap engkau membawa makan siang untuk kita, karena hari itu hari liburku dan ada timbunan artikel yang harus dikritik. Itu alasanku karena malas memasak bukan? Maafkan aku Tuanku.

Aku pasti rindu pisang goreng panas yang kita masak berdua, sore-sore saat hujan rintik-rintik turun. Lalu duduk di depan tv sambil menyeruput teh hitam kesukaan kita dan mengomentari apa saja yang mampir di pikiran.

Aku pasti rindu berdiri di depan jendela kamarmu saat malam-malam panas dan merasakan semilir angin gunung berhembus di leher dan mempermainkan rambutku.

Aku pasti rindu naik motor setiap akhir minggu, sehabis makan siang. Aku suka saat engkau membawaku masuk kampung ke luar kampung melihat-lihat manusia dan budaya berbeda.

Aku pasti rindu suasana pasar klitikan atau barkas tiap malam minggu. Berkeliling bersamamu. Melihat-lihat buku tua. Mengutuki orang-orang yang menjual buku-buku Time Life dan ensiklopedi karena sadar buku seperti itu tak pantas diloakkan. Kita marah juga karena sebenarnya buku-buku itu mengingatkan kita pada Ayah kita yang ringkih dan tua di rumah, yang rela kelaparan asal anaknya punya buku....

Aku akan rindu menemanimu melihat-lihat pisau dan kukri sisa perang dunia, atau menimang-nimang teropong antik di tanganku.

Aku akan sangat rindu padamu untuk berbagi rahasia kecilku dan kita tertawa, termenung dan terkesima bersama menikmatinya.

Aaah.....

Tuan, engkau pasti juga akan rindu padaku.

Rindu saat pagi hari melongok ke dapur dan tak ada apapun di atas piring untuk dimakan.

Rindu melihatku membuka pintu siang hari sesudah azan zuhur dan mencium aroma masakanku. Pasti rindu dengan semua hasil eksperimenku di dapur. Aku belum pernah gagal soalnya. Bukankah begitu? Hahaha....

Pasti engkau akan rindu padaku saat sore hari, menyeruput teh bersamaku dan mendiskusikan banyak hal. Dari cacing-cacing Ohlson sampai gosip murahan di tv, hoho....

Kita punya malam-malam saat kita sibuk mendiskusikan ini dan itu. Aku yang tiba-tiba suka muncul di pintu kamarmu tanpa ba-bi-bu langsung saja mengajukan pertanyaan muskilku seperti kata Sapardi atau ide tentang ini dan itu. Dan semalaman kita bisa sibuk membahasnya sambil membuka catatan. Padahal kadangkala itu cuma soal satu kata di kamus bahasa Indonesia.

Engkau akan rindu padaku Tuan, saat aku tiba-tiba jadi pintar dan memberimu ide tulisan. Haha....

Rindu padaku saat Ibu Ismail mengirimi foto dan videonya dan cuma aku teman berbagi.

Rindu padaku saat punggungmu sakit karena terlalu lama duduk dan kurang tidur.

Engkau juga pasti akan rindu pada kebodohan dan ketololanku. Terimakasih untuk tak lupa marah dan memaafkanku. Hehehe....

Izinkan aku untuk selalu bisa mengetuk pintu rumah itu lagi Tuan. Saat dadaku sempit dan pikiranku kalut, aku pasti akan ingat untuk pulang ke sana. Ada kepingan hatiku kutinggal di kamar kecilku, juga kuselipkan di tiap sudut rumah itu.

Izinkan aku untuk bisa selalu datang, pulang. Hatiku gemerlapan di sana. Percakapan kita tak pernah untuk hal sia-sia!

Harapanku, semoga engkau tak bosan sendirian. Semoga selalu dimudahkanNya. Semoga bukan hanya tulisanmu yang terbang melintasi benua tapi engkau juga. Semoga Allah mengabulkan harapan terdalammu dan mendengar semua doa-doamu karena menjagaku, adik kecilmu, lahir dan batin.

Terimakasih uda.

Nilai Diri (?)

Kemarin malam aku membaca kolom Samuel Mulia di Kompas Minggu. Tentang nilai diri. Bernilaikah saya? Hee... itu sudah jadi pertanyaan penting buatku beberapa hari ini. Kenapa orang lain bersedia berteman denganku? Kenapa kamu suka denganku? Kenapa kamu tidak menyukaiku? Sejauh mana kamu akan bersedia menerima diriku apa adanya? Tanpa syarat? Pertanyaan sama untuk diriku buat orang lain. Kenapa aku berteman dengannya? Sejauh mana aku akan setia padanya? Sejauh mana? (Jadi ingat dialog paling ku suka di Lord of The Rings, saat Pippin dan Merry sepupu Frodo, berjanji bahwa mereka bersedia mengikuti saudaranya itu hingga akhir yang pahit sekalipun. Karena apa? Karena yakin perjalanan itu menegakkan kebenaran dan bernilai buat kehidupan). Indah! Walau itu cuma dongeng loh. Tapi aku suka bagian itu. Fiksi itu jadi bernilai juga di mataku karena dia mengajarkan keberanian dan kesetiaan.

Nilai atau value akhir-akhir ini selalu jadi topik menarik buatku. Di bangku kuliah, di dalam buku teks kuliah bisnisku, semua bukan lagi bicara semata-mata laba perusahaan, tapi bicara memaksimalkan nilai perusahaan. (Tapi maaf, aku sedang tidak tertarik bicara soal kuliah bisnis :p). Aku mau bicara tentang nilai diri. Nilai diriku dan kamu.

Hm... jadi, bagaimana caranya supaya aku bernilai di matamu?

Dulu sih, waktu aku masih pakai baju putih abu-abu, pandanganku masih murni, bersih, jernih. Mungkin tubuhku masih bau surga waktu itu :p. Menurutku waktu itu diri bernilai ya dengan berusaha menjadi perempuan yang shalehah. Janji Tuhan kan begini; ada surga pada diri wanita shalehah. Nah siapa yang tak mau ke surga? Cuma perempuan shalehah yang kukenal biasanya sederhana dan sekilas terlihat biasa saja. Nah, model begini siapa yang mau? Hehehe... :p

Jadi aku mulai dengan berjilbab. Menutup aurat. Ini keinginan dari kelas 2 SMP sebenarnya. Muncul saat Oomku meninggal dan ku mulai tahu dengan sufi-sufi wanita seperti Rabiah Al-Adawiyah. Hari itu sepertinya aku mulai bertanya buat apa sih hidup ini sebenarnya? Mau jadi apa aku ini? Ke mana aku saat mati? Kenapa ada orang yang begitu cinta pada Tuhan, padahal tak nampak? Pertanyaan seperti itu berseliweran dalam kepalaku terus.

Dari anak kecil yang anti dengan jilbab, sukanya lari-lari dengan anak lelaki dan manjat pohon jambu; aku merubah ha-lu-an! Setiap hari menunggu saat masuk SMA diisi dengan berdoa; "Tuhan beri aku usia yang panjang hingga aku bisa sampai ke hari aku menutup auratku". Kira-kira begitu doanya. Harusnya sih aku langsung saja berjilbab saat keinginan itu muncul ya. Tapi karena lemah iman itu, keinginan baik malah ditunda. Syukur saja memang diberi umur oleh Tuhan sampai ke hari 'itu'. Kalau tidak, aku mungkin menyesalinya di alam baka :p

Masa SMA memang indah. Sibuk mencari jati diri. Sibuk bertanya Tuhan yang ku sembah ini benar atau tidak? Sibuk mencari tahu. Sibuk membangun prinsip dan idealisme. Sempat terpeleset juga. Berjanji dengan khusyuk pada Tuhan untuk tidak pacaran, eh... malah pacaran. Ironisnya, aku tersadar begitu aku berjumpa dengan cowo yang kelihatannya 'indah'. Indah, karena ku pikir dia jenis laki-laki shaleh, cerdas dan menolak pacaran! Aku tinggalkan cowoku. Karena Allah. Betul! Tapi maaf, sedikit juga karena dia. Aku malu padanya karena aku pacaran. Aku ingin meneladani dia. Dasar setan tak bisa lihat manusia senang, laki-laki itu malah suka padaku. Padahal biarkan saja aku yang suka padanya. Masalah tak akan ada. Ku pikir begitu. Tapi indah juga dia suka padaku. Bangga juga sedikit. Siapa aku dibanding dia? Kenapa? Karena dia bernilai 9.5 dan aku cuma 7! Nah, nilai lagi kan ;p Tapi mungkin dia menilaiku setara. Sampai-sampai dia lupa janjinya untuk tidak pacaran. Dia menggodaku. Tapi aku sedang berusaha membangun nilai. Terngiang kata guru Agamaku, ada 10 golongan yang tak akan kepanasan di padang mahsyar. Salah satunya pemuda yang berjumpa dan berpisah karena Allah. Aku tak mau kepanasan. Panas itu tidak nikmat. Jadi kusampaikan padanya dengan halus penolakanku. Sukses bikin hati perih! Tapi bagaimana lagi, aku kan ingin bernilai di mata Tuhan. Pahitnya, Tuhan suka menggodaku dengan cara ini. Menolak laki-laki baik karena Dia. Demi nilai di mataNya. Hiks....

Selama kuliah, hidup ku berwarna-warni. Pernah jadi pembangkang, tapi dengan langkah tertatih-tatih kembali padaNya. Membangun kembali nilai di mataNya. Sungguh itu tidak mudah. Cuma semua di masa itu simpel saja. Aku tak perduli dengan pandangan orang lain. Aku pikir, saat aku membangun nilaiku di mata Tuhan, aku juga sudah sekaligus membangun nilaiku di mata orang lain.

Cuma, hari ini aku salah!

Aku naif! Siapa sih yang butuh perempuan shaleh, pintar dan tertutup rapat? Kota besar ini tidak butuh itu. Kamu cuma jadi perempuan cadangan kalau berlagak sederhana dan shaleh. Betul! Sederhana dan shaleh itu cuma potret untuk bulan Ramadhan saja. Itupun untuk dipajang di dalam iklan-iklan di simpang jalan yang berdebu.

Coba tengok salon-salon kecantikan. Siapa yang datang ke sana? Untuk apa? Lihat pakaian yang dijual di mall-mall dan seperti apa rupa pengunjungnya? Lihat perempuan yang berseliweran di jalanan dan bagaimana cara mereka melirik dan memperdaya? Lihat isi televisi kita. Hohohoho... Kecantikan bukan buat disimpan dalam pakaian dan selendang panjangmu. Tapi untuk dipajang dan dipamerkan bulat-bulat, utuh, hingga pusing laki-laki manapun jadinya. Mereka bernilai 10 buat laki-laki dan kamu? Tujuh (7) dan mungkin cuma 6.5!

Definisi cantik dibuat sesuai geografis. Apa yang tak ada secara alami di daerah itu atau jarang ada di sana dijadikan tolak ukur. Di sini perempuan berkulit cerah bernilai 10 dan produk-produk kecantikan atas nama pemutih dipasarkan gila-gilaan. Lucunya, kakakku di Amerika minta dikirimi krim pemutih dari Indonesia, padahal produk itu mengklaim dirinya berasal dari Amerika. Kenapa? "Abis, gak ada yang mau jadi putih di sini". Glek! Ingat Amelia dan Nat, teman bule ku, yang mati-matian menggelapkan kulitnya selama di Indonesia. Karena itu bikin mereka jadi terlihat misterius, cantik dan tentu saja kaya. Ya iyalah, orang kaya juga kan yang bisa liburan ke khatulistiwa. Hohoho... jadi kita ini dinilai sebetulnya oleh apa? Kapitalis industri kosmetik mempermainkan kita bukan?

Ok, mungkin tidak semua laki-laki seperti itu ya. Tapi terus-terang saja, nilai itu ber-ge-ser!

Dua minggu lalu, aku mengajak adik perempuanku nonton di GI. Dan dia merasa di dunia antah berantah. Gamang. Perempuan-perempuan jarang sekali yang berjilbab rapi di sana. Aku bilang padanya, "jangan pernah lupa dari mana kamu datang dan untuk apa kamu di kota ini. Jangan pernah tercerabut dari akarmu. Karena saat kamu tercerabut dari akarmu dan tak punya sikap, kamu kehilangan nilai dirimu". Gemerlap itu cuma fatamorgana. Sesekali menikmati fatamorgana boleh juga lah. Agar tahu mana telaga mana kolam pasir.

Hm... tapi bagaimanapun juga, aku yakin ini bukan untuk hal yang sia-sia. Menciptakan nilai tak akan pernah sia-sia. Perusahaan-perusahaan besar melakukannya kok supaya bertahan lama, panjang umur, sehat dan tahan banting menghadapi krisis. Mereka tak ingin sekedar berlaba dan tampak indah dari luar. Segala aspek dibangun. Sampai nilai kepuasan konsumen pun dihitung dan berapa nilai uang yang dikeluarkan konsumen untuk membeli produk mereka pun dikaji-kaji. Susah dan lama.

Aku sih tidak bisa berhitung sejelimet itu buat menilai diriku. Aku tak tahu seberapa tulus dan puas kamu berteman denganku. Aku tak tahu apa kamu menganggapku bernilai atau tidak. Mungkin saja aku dan kamu saling menilai karena sesuatu yang artifisial, tapi semoga tidak. Aku juga lebih tak tahu lagi apa aku bernilai di mata Tuhan atau tidak. Aku berusaha saja.

Harapanku, aku berteman denganmu atau kamu berteman denganku untuk sesuatu yang indah. Semoga itu karena Dia saja. Hingga kita bisa berucap seperti Pippin dan Merry kepada Frodo.

Aku berusaha. Mari berusaha.

Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

(Sapardi Djoko Damono)

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

Untuk O.F yang kubuat susah beberapa hari ini. Jika hidup memang hanyalah prolog menuju Tuhan dan aku harus bergerak lebih cepat dari irama yang satu ini, maka aku akan berusaha tegar. Terimakasih telah mengingatkanku bahwa ada yang setia dan cinta padaku. Yang satu. Yang meletakkan dua penjaga untukku.

Padamu, kau tahu itu, berdoalah untukku, seperti doa malam Sapardi yang pernah kutunjukkan. Itu bagian kesukaanku karena aku begitu. Ku mohon.

Telinga

“Masuklah ke telingaku,” bujuknya.
……………..Gila
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci — setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
……………… “Masuklah,” bujuknya.
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri.

(Sapardi Djoko Damono)

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

The Riddle (Five for fighting)

(I love this song! Full of meaning)
Just click the title to hear it from youtube.

There was a man back in '95
Whose heart ran out of summers
But before he died, I asked him

Wait, what's the sense in life
Come over me, Come over me

He said,

Son why you got to sing that tune
Catch a Dylan song or some eclipse of the moon
Let an angel swing and make you swoon
Then you will see... You will see

Then he said,

Here's a riddle for you
Find the Answer
There's a reason for the world
You and I...

Picked up my kid from school today

Did you learn anything cause in the world today
You can't live in a castle far away
Now talk to me, come talk to me

He said,

Dad I'm big but we're smaller than small
In the scheme of things, well we're nothing at all
Still every mother's child sings a lonely song
So play with me, come play with me

And Hey Dad
Here's a riddle for you
Find the Answer
There's a reason for the world
You and I...

I said,

Son for all I've told you
When you get right down to the
Reason for the world...
Who am I?

There are secrets that we still have left to find
There have been mysteries from the beginning of time
There are answers we're not wise enough to see

He said... You looking for a clue I Love You free...

The batter swings and the summer flies
As I look into my angel's eyes
A song plays on while the moon is hiding over me
Something comes over me

I guess we're big and I guess we're small
If you think about it man you know we got it all
Cause we're all we got on this bouncing ball
And I love you free
I love you freely

Here's a riddle for you
Find the Answer
There's a reason for the world
You and I...


Ingat Ayahku hari ini. Yang kutinggal begitu saja hari itu di tengah suasana muram kota yang baru saja terkena bencana. Yang tak bertanya kenapa aku pergi tiba-tiba. Yang kucium pipinya dan berharap itu bukan yang terakhir kali. Yang pecaya bahwa aku tegar dan kuat....

Walau Papi tak akan membaca ini, karena matamu makin rabun. Aku mau Papi tahu, aku meneladanimu. Berdedikasi untuk semua "ya" yang telah kuucapkan pada siapapun dan apapun. Dan, akhirnya memang bukan manusia yang akan menghargai kita, tapi hanya Dia saja. Tapi aku tak menyesal Pap.

Tetaplah menjadi teladan Pap. Buat aku bangga padamu dan engkau pun bangga padaku.

Tetaplah hidup Pap. Panjang umur selalu. Sehatlah selalu untukku. Dan kumohon, selipkanlah selalu namaku di setiap doa penuh harapmu.

I LOVE YOU FREE. I LOVE YOU FREELY.



Arsip Blog

Name :
Web URL :
Message :