Kemarin malam aku membaca kolom Samuel Mulia di Kompas Minggu. Tentang nilai diri. Bernilaikah saya? Hee... itu sudah jadi pertanyaan penting buatku beberapa hari ini. Kenapa orang lain bersedia berteman denganku? Kenapa kamu suka denganku? Kenapa kamu tidak menyukaiku? Sejauh mana kamu akan bersedia menerima diriku apa adanya? Tanpa syarat? Pertanyaan sama untuk diriku buat orang lain. Kenapa aku berteman dengannya? Sejauh mana aku akan setia padanya? Sejauh mana? (Jadi ingat dialog paling ku suka di Lord of The Rings, saat Pippin dan Merry sepupu Frodo, berjanji bahwa mereka bersedia mengikuti saudaranya itu hingga akhir yang pahit sekalipun. Karena apa? Karena yakin perjalanan itu menegakkan kebenaran dan bernilai buat kehidupan). Indah! Walau itu cuma dongeng loh. Tapi aku suka bagian itu. Fiksi itu jadi bernilai juga di mataku karena dia mengajarkan keberanian dan kesetiaan.
Nilai atau value akhir-akhir ini selalu jadi topik menarik buatku. Di bangku kuliah, di dalam buku teks kuliah bisnisku, semua bukan lagi bicara semata-mata laba perusahaan, tapi bicara memaksimalkan nilai perusahaan. (Tapi maaf, aku sedang tidak tertarik bicara soal kuliah bisnis :p). Aku mau bicara tentang nilai diri. Nilai diriku dan kamu.
Hm... jadi, bagaimana caranya supaya aku bernilai di matamu?
Dulu sih, waktu aku masih pakai baju putih abu-abu, pandanganku masih murni, bersih, jernih. Mungkin tubuhku masih bau surga waktu itu :p. Menurutku waktu itu diri bernilai ya dengan berusaha menjadi perempuan yang shalehah. Janji Tuhan kan begini; ada surga pada diri wanita shalehah. Nah siapa yang tak mau ke surga? Cuma perempuan shalehah yang kukenal biasanya sederhana dan sekilas terlihat biasa saja. Nah, model begini siapa yang mau? Hehehe... :p
Jadi aku mulai dengan berjilbab. Menutup aurat. Ini keinginan dari kelas 2 SMP sebenarnya. Muncul saat Oomku meninggal dan ku mulai tahu dengan sufi-sufi wanita seperti Rabiah Al-Adawiyah. Hari itu sepertinya aku mulai bertanya buat apa sih hidup ini sebenarnya? Mau jadi apa aku ini? Ke mana aku saat mati? Kenapa ada orang yang begitu cinta pada Tuhan, padahal tak nampak? Pertanyaan seperti itu berseliweran dalam kepalaku terus.
Dari anak kecil yang anti dengan jilbab, sukanya lari-lari dengan anak lelaki dan manjat pohon jambu; aku merubah ha-lu-an! Setiap hari menunggu saat masuk SMA diisi dengan berdoa; "Tuhan beri aku usia yang panjang hingga aku bisa sampai ke hari aku menutup auratku". Kira-kira begitu doanya. Harusnya sih aku langsung saja berjilbab saat keinginan itu muncul ya. Tapi karena lemah iman itu, keinginan baik malah ditunda. Syukur saja memang diberi umur oleh Tuhan sampai ke hari 'itu'. Kalau tidak, aku mungkin menyesalinya di alam baka :p
Masa SMA memang indah. Sibuk mencari jati diri. Sibuk bertanya Tuhan yang ku sembah ini benar atau tidak? Sibuk mencari tahu. Sibuk membangun prinsip dan idealisme. Sempat terpeleset juga. Berjanji dengan khusyuk pada Tuhan untuk tidak pacaran, eh... malah pacaran. Ironisnya, aku tersadar begitu aku berjumpa dengan cowo yang kelihatannya 'indah'. Indah, karena ku pikir dia jenis laki-laki shaleh, cerdas dan menolak pacaran! Aku tinggalkan cowoku. Karena Allah. Betul! Tapi maaf, sedikit juga karena dia. Aku malu padanya karena aku pacaran. Aku ingin meneladani dia. Dasar setan tak bisa lihat manusia senang, laki-laki itu malah suka padaku. Padahal biarkan saja aku yang suka padanya. Masalah tak akan ada. Ku pikir begitu. Tapi indah juga dia suka padaku. Bangga juga sedikit. Siapa aku dibanding dia? Kenapa? Karena dia bernilai 9.5 dan aku cuma 7! Nah, nilai lagi kan ;p Tapi mungkin dia menilaiku setara. Sampai-sampai dia lupa janjinya untuk tidak pacaran. Dia menggodaku. Tapi aku sedang berusaha membangun nilai. Terngiang kata guru Agamaku, ada 10 golongan yang tak akan kepanasan di padang mahsyar. Salah satunya pemuda yang berjumpa dan berpisah karena Allah. Aku tak mau kepanasan. Panas itu tidak nikmat. Jadi kusampaikan padanya dengan halus penolakanku. Sukses bikin hati perih! Tapi bagaimana lagi, aku kan ingin bernilai di mata Tuhan. Pahitnya, Tuhan suka menggodaku dengan cara ini. Menolak laki-laki baik karena Dia. Demi nilai di mataNya. Hiks....
Selama kuliah, hidup ku berwarna-warni. Pernah jadi pembangkang, tapi dengan langkah tertatih-tatih kembali padaNya. Membangun kembali nilai di mataNya. Sungguh itu tidak mudah. Cuma semua di masa itu simpel saja. Aku tak perduli dengan pandangan orang lain. Aku pikir, saat aku membangun nilaiku di mata Tuhan, aku juga sudah sekaligus membangun nilaiku di mata orang lain.
Cuma, hari ini aku salah!
Aku naif! Siapa sih yang butuh perempuan shaleh, pintar dan tertutup rapat? Kota besar ini tidak butuh itu. Kamu cuma jadi perempuan cadangan kalau berlagak sederhana dan shaleh. Betul! Sederhana dan shaleh itu cuma potret untuk bulan Ramadhan saja. Itupun untuk dipajang di dalam iklan-iklan di simpang jalan yang berdebu.
Coba tengok salon-salon kecantikan. Siapa yang datang ke sana? Untuk apa? Lihat pakaian yang dijual di mall-mall dan seperti apa rupa pengunjungnya? Lihat perempuan yang berseliweran di jalanan dan bagaimana cara mereka melirik dan memperdaya? Lihat isi televisi kita. Hohohoho... Kecantikan bukan buat disimpan dalam pakaian dan selendang panjangmu. Tapi untuk dipajang dan dipamerkan bulat-bulat, utuh, hingga pusing laki-laki manapun jadinya. Mereka bernilai 10 buat laki-laki dan kamu? Tujuh (7) dan mungkin cuma 6.5!
Definisi cantik dibuat sesuai geografis. Apa yang tak ada secara alami di daerah itu atau jarang ada di sana dijadikan tolak ukur. Di sini perempuan berkulit cerah bernilai 10 dan produk-produk kecantikan atas nama pemutih dipasarkan gila-gilaan. Lucunya, kakakku di Amerika minta dikirimi krim pemutih dari Indonesia, padahal produk itu mengklaim dirinya berasal dari Amerika. Kenapa? "Abis, gak ada yang mau jadi putih di sini". Glek! Ingat Amelia dan Nat, teman bule ku, yang mati-matian menggelapkan kulitnya selama di Indonesia. Karena itu bikin mereka jadi terlihat misterius, cantik dan tentu saja kaya. Ya iyalah, orang kaya juga kan yang bisa liburan ke khatulistiwa. Hohoho... jadi kita ini dinilai sebetulnya oleh apa? Kapitalis industri kosmetik mempermainkan kita bukan?
Ok, mungkin tidak semua laki-laki seperti itu ya. Tapi terus-terang saja, nilai itu ber-ge-ser!
Dua minggu lalu, aku mengajak adik perempuanku nonton di GI. Dan dia merasa di dunia antah berantah. Gamang. Perempuan-perempuan jarang sekali yang berjilbab rapi di sana. Aku bilang padanya, "jangan pernah lupa dari mana kamu datang dan untuk apa kamu di kota ini. Jangan pernah tercerabut dari akarmu. Karena saat kamu tercerabut dari akarmu dan tak punya sikap, kamu kehilangan nilai dirimu". Gemerlap itu cuma fatamorgana. Sesekali menikmati fatamorgana boleh juga lah. Agar tahu mana telaga mana kolam pasir.
Hm... tapi bagaimanapun juga, aku yakin ini bukan untuk hal yang sia-sia. Menciptakan nilai tak akan pernah sia-sia. Perusahaan-perusahaan besar melakukannya kok supaya bertahan lama, panjang umur, sehat dan tahan banting menghadapi krisis. Mereka tak ingin sekedar berlaba dan tampak indah dari luar. Segala aspek dibangun. Sampai nilai kepuasan konsumen pun dihitung dan berapa nilai uang yang dikeluarkan konsumen untuk membeli produk mereka pun dikaji-kaji. Susah dan lama.
Aku sih tidak bisa berhitung sejelimet itu buat menilai diriku. Aku tak tahu seberapa tulus dan puas kamu berteman denganku. Aku tak tahu apa kamu menganggapku bernilai atau tidak. Mungkin saja aku dan kamu saling menilai karena sesuatu yang artifisial, tapi semoga tidak. Aku juga lebih tak tahu lagi apa aku bernilai di mata Tuhan atau tidak. Aku berusaha saja.
Harapanku, aku berteman denganmu atau kamu berteman denganku untuk sesuatu yang indah. Semoga itu karena Dia saja. Hingga kita bisa berucap seperti Pippin dan Merry kepada Frodo.
Aku berusaha. Mari berusaha.